Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dirjen penyelenggaraan Haji dan Umrah, Prof Nizar, M.Ag mengatakan, pada tahun ini penentuan maktab dilakukan dengan sistem zonasi per wilayah. Sehingga seluruh jemaah haji asal Jateng bisa berkumpul di satu pemondokan.

"Selama ini kan yang banyak jadi persoalan jamaah adalah tersasar. Banyak sekali itu, dari Masjidil Haram mau pulang ke maktab tersasar, karena ketinggalan bus. Belum lagi kalau lupa dari maktab mana. Maka akhirnya diputuskan maktab dibagi zonasi per wilayah,” katanya.

Untuk Jawa Tengah, maktab jemaah hajinya menurut dia berada di Jarwal. Lokasinya sangat dengan Masjidil Haram. Jaraknya sekitar 900 meter hingga 2 km, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Hal ini menurut dia, menjadi kesempatan emas bagi jemaah haji asal Jateng agar bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh kesabaran.

"Di Jarwal ini juga ada hotel yang berkapasitas 16 ribu orang. Meskipun di wilayah Jarwal untuk hotel atau maktabnya sedikit, serta tidak baru dan agak sedikit minimalis," ujarnya.

[caption id="attachment_166288" align="aligncenter" width="720"] Gubernur Ganjar Pranowo melantik Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Solo. (MURIANEWS.com)[/caption]

Selain zonasi maktab, inovasi yang dilakukan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji adalah penyediaan kuliner untuk para jemaah selama ibadah. Nizar mengatakan, seluruh sajian berdasarkan cita rasa Nusantara. Mulai dari Gudeg, pecel, rendang, sate dan lainnya.

"Ini untuk mengatasi jemaah kekurangan gizi. Karena kalau kita sediakan sajian khas Timur Tengah, lidah kita ini kurang cocok dan akhirnya para jemaah enggan makan. Tidak heran beberapa tahun lalu terjadi banyak jemaah kekurangan gizi, ya karena makanannya tidak cocok dengan lidah," terangnya.
"Ini untuk mengatasi jemaah kekurangan gizi. Karena kalau kita sediakan sajian khas Timur Tengah, lidah kita ini kurang cocok dan akhirnya para jemaah enggan makan. Tidak heran beberapa tahun lalu terjadi banyak jemaah kekurangan gizi, ya karena makanannya tidak cocok dengan lidah," terangnya.Tahun ini, dari total 231.000 kuota jemaah haji Indonesia, sekitar 30 ribu berasal dari Jateng dan terkumpul dalam Embarkasi Solo. Mereka terbagi dalam 96 kloter, dengan dua fase pemberangkatan.Gelombang pertama dilakukan pada 7 Juli-19 Juli 2019, dan gelombang kedua 20 Juli-5 Agustus 2019. Sementara fase pemulangan, gelombang pertama melalui Jeddah, 7-19 Agustus 2019 dan fase kedua melalui Madinah pada 30 Agustus-15 September 2019.Para petugas yang bertindak sebagai panitia penyelenggara haji di Embarkasi Solo telah dilantik oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Hotel, Solo, Jumat (14/6/2019) kemarin.Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan lega dengan inovasi soal pemondokan dan katering untuk jemaah haji itu. Karena menurut dia, persiapan pemondokan dan kuliner, bukanlah hal sepele."Minimal bisa membuat saudara kita ayem, bisa ngumpul. Ada kemantapan, suasana kearifan lokal yang membuat mereka nyaman, sehingga ibadahnya tidak akan terganggu. Mudahkanlah saudara kita beribadah," terangnya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler