Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dari pengumumuan PPDB tingkat SMA itu, ternyata tak semua kuota yang disiapkan di tiap sekolah terisi. Dari total daya tampung SMA negeri di Jawa Tengah sebanyak 115.908 kursi, hanya 111.215 kursi yang terisi.

Sehingga masih ada 4.693 kursi di SMA dan SMK negeri di seluruh Jawa Tengah yang kosong. Meski demikian, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan, pihaknya tak akan menggelar PPDB gelombang kedua.

Dengan kondisi ini, maka ribuan kuota yang tak terpenuhi itu akan tetap dibiarkan kosong.

"Kursi kosong ya sudah kita biarkan. Karena memang tidak ada pendaftar,” kata Ganjar Pranowo, Rabu (10/7/2019).

Ia mengatakan, kursi yang kosong itu berada di daerah pinggiran dan semuanya berada di wilayah kabupaten, bukan kawasan perkotaan.

Hal yang sama juga dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Sulistyo. Menurut dia, sekolah yang tak terisi penuh kuotanya semuanya berada di daerah pinggiran. Sementara para calon siswa di skeitar sekolah itu rata-rata mendaftar di kota.

“Yang SMA lokasinya di pinggiran. Sementara yang SMK itu terkait jurusan, karena peminatnya sedikit,” ujarnya.
“Yang SMA lokasinya di pinggiran. Sementara yang SMK itu terkait jurusan, karena peminatnya sedikit,” ujarnya.Baca: 446 Pendaftar PPDB di Jateng Gunakan SKD Aspal, 2 Siswa Langsung DiblacklistSedangkan alasan lainnya kursi di SMA kosong yaitu di daerah peminat sekolah ke SMK lebih banyak. Salah satu contohnya di Kabupaten Purworejo yang masih menyisakan 281 kursi kosong di SMA Negeri.Alasan lain yakni banyak pondok pesantren yang juga menyediakan madrasah aliyah (MA) swasta. Sehingga santri di ponpes itu dipastikan akan sekolah di MA tersebut ketimbang di SMA atau SMK negeri.Kemudian sekolah swasta biasanya buka (pendaftaran) lebih awal tanpa zonasi. Sehingga banyak siswa yang sudah masuk ke sekolah tersebut. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler