Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Bahkan warga langsung menyampaikan langsung keluhan itu ketika Ganjar mengunjungi desa itu untuk menyalurkan bantuan 30 tangki air bersih, Kamis (11/7/2019). Warga mengeluh sejak tiga bulan terakhir sudah sulit mendapatkan air bersih.

“Mereka mengeluh karena sulit mendapatkan air bersih. Sebenarnya ada sumber mata air, namun lokasinya sangat jauh dari desa itu,” kata Ganjar, Jumat (12/8/2019).

Sumber mata air yang dimaksud Ganjar itu berada di bawah Desa Balerante. Posisi Desa Balerante ini memang paling tinggi di antara desa lainnya di lereng Merapi, sehingga untuk mengalirkan air dari sumber tersebut ke Balerante sangat sulit untuk dilakukan.

Ganjar pun langsung memerintahkan Kepala Desa Balerante, Sukono (40) untuk melakukan kajian guna menarik air dari bawah desa menuju Balerante.

Ia juga memberi waktu selama dua pekan untuk melakukan hal itu, dan segera menyusun proposal pembiayaan untuk diajukan kepada Pemprov Jateng.

"Saya minya dikaji kemudian dihitung berapa biayanya. Setelah itu ajukan ke saya. Saya kasih waktu maksimal dua pekan untuk menghitung, kalau sudah ada nanti saya bantu. Soal anggaran, biar urusan saya dengan bupati (Bupati Klaten Sri Mulyani)," ujarnya.

Ganjar mengatakan, persoalan kekeringan memang kerap melanda warga di lereng gunung. Kalau di lereng Merapi ada Kabupaten Klaten, Magelang, sementara di lereng gunung Slamet ada Purbalingga dan sekitarnya.

Solusi yang harus dilakukan memang menurut dia, mengalirkan air dari sumber terdekat dengan desa.
Solusi yang harus dilakukan memang menurut dia, mengalirkan air dari sumber terdekat dengan desa."Kalau posisi sumber air ada di atas desa, itu mudah. Persoalannya ini sumbernya di bawah, jadi agak repot. Tapi bisa dibuat bertingkat dan ada pompanya. Memang agak mahal, tapi nanti biar Pak Kades menghitung," jelasnya.Selain itu menurut dia, solusi ini bisa dilakukan dengan membentuk BUMDes yang bergerak dalam penyediaan air minum bagi masyarakan."Sebenarnya ini bisa dijadikan bisnis, bisa jadi Bumdes atau seperti Pamsimas. Tinggal ngitung saja berapa harganya, butuh diesel berapa, perawatan berapa dan lainnya. Saya minta segera diajukan, nanti saya carikan anggarannya," tandasnya.Sementara itu, Sukono yang baru beberapa waktu lalu dilantik mejadi Kades Balerante ini menyebut, jika memang dibutuhkan biaya yang sangat mahal untuk menarik air dari sumber di bawah desanya. Oleh karenanya, ia langsung wadul masalah ini kepada gubernur.Selain itu, Sukono juga menyebut jika di desanya terdapat tanah desa seluas 5 hektare. Lahan itu bisa digunakan untuk pembuatan embung guna mengatasi kekeringan. (lhr) Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler