Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Wawancara telah dilakukan oleh tim TV yang diluncurkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu pada Senin (9/9/2019). Rencananya, kisah hidup Ganjar ini akan ditayangkan dalam dalam acara khusus profil-profil tokoh cinta tanah air di Hidup TV.

Pertimbangannya, Ganjar dinilai menjadi salah satu tokoh Indonesia yang cinta Tanah Air yang tidak hanya berteori, tetapi langsung praktik.

Berbagai kisah hidup Ganjar pun diulas, mulai dari kehidupan orang tuanya, yang hidup sederhana meski ayah Ganjar, S Pamudji seorang polisi.

"Dari kesederhanaan itu, membuat kami survive dan lebih banyak tantangan. Orang tua mengajarkan kemandirian, kami harus ngepel, nyuci piring, nyuci baju sendiri. Agar memiliki rasa tanggung jawab. Bapak itu antara tegas dan galak itu berhimpitan. Hingga membuat kami tidak cengeng," kata Ganjar.

Sedangkan sang Ibu, Sri Suparni sering mengajari anak-anaknya memasak. Sehingga, ketika sekolah dan kuliah tinggal di kos-kosan, Ganjar memasak sendiri. Selain bertujuan agar mandiri dan percaya diri, juga menghemat karena uang saku yang terbatas.

Oleh karena itu, dengan belajar, bagi Ganjar, belajar tentang apa saja, termasuk ilmu pengetahuan yang kelak pasti akan menjadi sebuah investasi. Selain mahalnya biaya pendidikan saat itu,  Ganjar mengaku, orangtuanya sempat menjadi korban rentenir karena harus utang demi mengubah nasib hidup anak-anaknya.

"Utang orangtua kami itu baru lunas setelah kami semua bekerja. Setiap anak masing-masing setor ke orang tua, Rp 50 ribu pada 1990-an," ujar Ganjar.

Seperti anak-anak lainnya di salah satu desa di lereng Gunung Lawu, Karanganyar anak kelima dari enam bersaudara itu ketika bersekolah di bangku SD, tidak pernah memakai sepatu.

“Setiap hari juga mandi di kali dan bermain bola bersama teman-teman lain,” ujarnya.Saat kelas lima SD, ia pun harus pindah ke Kutoarjo untuk mengikuti tempat tugas ayahnya. Saat duduk di bangku SMP,  Ganjar bahkan sempat berjualan bensin di pinggir jalan.Saat bersekolah di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta dan kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), Ganjar yang ketika itu sudah hidup sendiri di “kos-kosan” tak pernah mengeluhkan kiriman uang saku yang pas-pasan. Keterbatasan ekonomi orang tuanya justru telah mendorong semangat dia untuk melakukan kerja sambilan.Ganjar Prawono remaja juga dikenal sangat pendiam dan penurut. Laku prihatin karena keterbatasan ekonomi keluarga dengan berjualan bensin eceran telah menempanya menjadi politikus tangguh sekaligus mengantarkannya menjadi Gubernur Jawa Tengah untuk kedua kalinya."Saat menjadi mahasiswa, saya aktif di GMNI dan menjadi awal yang belajar politik. Kemudian kenal dengan tokoh-tokoh besar. Hingga menjadi anggota partai, anggota DPR RI, dan ikut bursa pemilihan gubernur dan sekarang masuk periode kedua pada tahun pertama," tandasnya.Ganjar pun berpesan kepada generasi muda, jika ingin mengabdi, jangan pernah mengeluh dan selalu berbuat baik. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler