Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pakar psikilogi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Hastaning Sakti juga menilai dunia pendidikan memang menjadi sasaran empuk gerakan radikal untuk menanamkan pengaruhnya.

Pasalnya menurut dia, dunia pendidikan yang didominasi anak-anak yang akan mudah dipengaruhi dan ditanamkan paham itu.

"Dibanding orang tua, penanaman paham ke anak-anak akan lebih mudah dan efektif. Anak-anak itu secara psikologis akan mudah menerima apapun itu yang diberikan, mencernanya dan masuk ke otak. Paham itu kemudian akan terekam dalam otak sejak kecil dan menyatu," katanya, Selasa (17/9/2019).

Untuk melawan ini menurut dia, harus ada sinergi antara pemerintah dan peran orang tua. Terutama menggencarkan pendidikan budi pekerti, nasionalisme dan kebangsaan untuk melawan paham-paham radikal.

”Saya prihatin melihat anak sekarang sudah jarang yang memiliki budi pekerti, dan itu menjadi pekerjaan rumah kita semuanya," ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Pengamat Radikalisme dan Terorisme dari Yayasan Prasati Perdamaian (YPP) Tayyip Malik. Ia juga menilai dunia pendidikan memang menjadi sasaran aktor terorisme.

Olah karenanya Ganjar Pranowo didorong mengambil tindakan tegas. Termasuk melakukan langkah-langkah konkrit untuk membentengi dunia pendidikan di Jateng dari paham radikal.

Pasalnya menurut dia, paham radikal itu disebarkan melalui mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler hingga menugaskan orang untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah dan pondok pesantren.

"Selain guru, penyebaran radikalisme juga marak dilakukan melalui kurikulum. GP Ansor belum lama ini menemukan banyak buku-buku ajar yang isinya mendoktrin tentang radikalisme," kata Tayyip.

Tayyip pun mendukung langkah tegas Ganjar untuk memberikan sanksi tegas kepada oknum guru yang terlibat radikalisme. Sebab menurutnya, radikalisme itu sulit diluruskan karena sudah terpatri dalam hati para penganutnya.

"Saya setiap hari bergelut dengan teman-teman eks napiter. Memang yang paling sulit adalah mengubah mindset dan idiologi mereka, karena sudah terpapar sejak lama," terangnya.
"Saya setiap hari bergelut dengan teman-teman eks napiter. Memang yang paling sulit adalah mengubah mindset dan idiologi mereka, karena sudah terpapar sejak lama," terangnya.Pembinaan kepada oknum dunia pendidikan yang mengajarkan paham radikal memang penting. Namun ia meyakini, hal itu akan sulit berhasil.“Sanksi tegas berupa penurunan pangkat, pengurangan gaji hingga pemecatan terkadang diperlukan sebagai shock therapy. Saya rasa pemerintah bisa melakukan hal itu," katanya.Baca: Ganjar Sebut Ada Tujuh Kepala Sekolah Negeri di Jateng Terpapar RadikalismeUntuk mengantisipasi adanya penyebaran paham radikal di sekolah, pemerintah lanjut Tayyip harus gencar melakukan sosialisasi tentang kebangsaan. Selain itu, pemantauan kurikulum serta buku ajar harus dilakukan berjenjang untuk memfilter adanya doktrin radikalisme."Lingkungan sekolah baik kegiatan ekstrakulikuler keagamaan serta lingkungan sekitar sekolah juga harus diawasi agar penyebaran paham radikal dapat diantisipasi. Intinya, radikalisme dalam dunia pendidikan harus dilawan demi masa depan generasi bangsa," pungkasnya.Sementara itu Ganjar Pranowo sebelumnya menyatakan akan melakukan pendekatan dan pembinaan terhadap ASN yang terindikasi terpapar radikalisme. Termasuk terhadap tujuh kepala sekolah tersebut.Namun menurutnya, jika para ASN tersebut tak mau dibina, maka pilihan terakhir yang akan diambil adalah tindakan tegas."Ketujuh kepala sekolah itu saat ini sedang dibina untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau tidak mau, ya diambil tindakan tegas," kata Ganjar. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler