"
Allahumma ubat-ubet, bisa nyandang bisa ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari," petikan doa yang dilantunkan Ganjar.
Doa tersebut merupakan doa agar bekerja dan diberi kelapangan rezeki. Doa itu pun diamini Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) Kabinet Kerja maupun tamu undangan.
Dalam pidatonya, Ganjar menyebut jika upaya pelestarian batik sudah dilakukan oleh para orang tua sejak zaman dahulu. Mulai dari sejak bayi dalam kandungan usia tujuh bulan, dikenalkan batik wahyu tumurun dalam prosesi mitoni. Dengan harapan, si jabang bayi kelak selalu mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
[caption id="attachment_173933" align="aligncenter" width="1280"]

Gubernur Ganjar Pranowo melihat kreasi batik dalam acara membatik bersama. (MURIANEWS.com)[/caption]
Kemudian, dalam prosesi itu dilanjutkan dengan mengenakan batik motif garuda yang merupakan kombinasi dengan batik lain seperti parang atau kawung. Harapannya nantinya sang anak mampu meraih cita-cita yang tinggi dengan tetap bersifat rendah hati kepada sesama (kawung) dan juga bersifat kesatria yang berbudi luhur dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi
Motif batik yang ketiga untuk dikenakan, adalah motif sido mukti, yang memiliki harapan bahwa nantinya yang jabang bayi akan memiliki hidup yang makmur dan dilebihkan selalu rezekinya oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu, motif ini juga melambangkan bahwa anaknya akan selalu mampu menjadi kebanggan orang tua.
"Ada pula batik corak semen rante yang berarti cinta dan bangsa yang bersatu. Perjalanan batik di tengah gempuran teknologi, ada yang nyungsep, ada yang terus berkembang. Ini tugas kita untuk terus melestarikan karena sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009," kata Ganjar.
Presiden Jokowi pun mengakui, corak batik saat ini sudah beragam dan dipakai di mana saja dan oleh siapa saja. Komitmen generasi muda untuk melestarikan batik melalui muatan lokal sepekan tiga kali di sekolah pun diapresiasi Jokowi.”Tugas kita bersama untuk mengajak seluruh masyarakat dunia mengenakan batik. Agar batik ini tetap mendapat pengakuan dari UNESCO," harap Joko Widodo.Tujuh penari yang mengenalkan jenis batik sidoluhur, sidomukti, parangklitik, sidomulyo, parangbarong, tambal pamiluto dan padangkusumo dalam tarian selamat datang kepada rombongan presiden pun diberi hadiah sepeda oleh Joko Widodo.Dalam acara itu, juga digelar membatik bersama yang dilakukan oleh 500 orang yang terdiri dari perajin batik, para pelajar maupun pelajar asal Belgia yang turut serta dalam program pertukaran pelajar dunia, atau Rotary Youth Exchange."Ini pengalaman baru bagi saya. Saya mau membatik selendang, dan ini masih tahap belajar. Batik bagi saya adalah karya seni seperti lukisan beragam corak yang aku kira sulit, karena ada banyak tahapan untuk mendapatkan hasil akhir yang luar biasa cantiknya," kata Julie, pelajar asal Belgia. (lhr) Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha
MURIANEWS.com, Solo – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melantunkan doa untuk para perajin batik, dalam Peringatan Hari Batik Nasional di Pura Mangkunegaran Surakarta, Rabu (2/10/2019). Doa yang dilantunkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu pun bukan sembarangan, lantaran merupakan ijazah dari KH Dalhar, Pengasuh Ponpes Darussalam Watucongol, Magelang.
"
Allahumma ubat-ubet, bisa nyandang bisa ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari," petikan doa yang dilantunkan Ganjar.
Doa tersebut merupakan doa agar bekerja dan diberi kelapangan rezeki. Doa itu pun diamini Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) Kabinet Kerja maupun tamu undangan.
Dalam pidatonya, Ganjar menyebut jika upaya pelestarian batik sudah dilakukan oleh para orang tua sejak zaman dahulu. Mulai dari sejak bayi dalam kandungan usia tujuh bulan, dikenalkan batik wahyu tumurun dalam prosesi mitoni. Dengan harapan, si jabang bayi kelak selalu mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
[caption id="attachment_173933" align="aligncenter" width="1280"]

Gubernur Ganjar Pranowo melihat kreasi batik dalam acara membatik bersama. (MURIANEWS.com)[/caption]
Kemudian, dalam prosesi itu dilanjutkan dengan mengenakan batik motif garuda yang merupakan kombinasi dengan batik lain seperti parang atau kawung. Harapannya nantinya sang anak mampu meraih cita-cita yang tinggi dengan tetap bersifat rendah hati kepada sesama (kawung) dan juga bersifat kesatria yang berbudi luhur dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi
Motif batik yang ketiga untuk dikenakan, adalah motif sido mukti, yang memiliki harapan bahwa nantinya yang jabang bayi akan memiliki hidup yang makmur dan dilebihkan selalu rezekinya oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu, motif ini juga melambangkan bahwa anaknya akan selalu mampu menjadi kebanggan orang tua.
"Ada pula batik corak semen rante yang berarti cinta dan bangsa yang bersatu. Perjalanan batik di tengah gempuran teknologi, ada yang nyungsep, ada yang terus berkembang. Ini tugas kita untuk terus melestarikan karena sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009," kata Ganjar.
Presiden Jokowi pun mengakui, corak batik saat ini sudah beragam dan dipakai di mana saja dan oleh siapa saja. Komitmen generasi muda untuk melestarikan batik melalui muatan lokal sepekan tiga kali di sekolah pun diapresiasi Jokowi.
”Tugas kita bersama untuk mengajak seluruh masyarakat dunia mengenakan batik. Agar batik ini tetap mendapat pengakuan dari UNESCO," harap Joko Widodo.
Tujuh penari yang mengenalkan jenis batik sidoluhur, sidomukti, parangklitik, sidomulyo, parangbarong, tambal pamiluto dan padangkusumo dalam tarian selamat datang kepada rombongan presiden pun diberi hadiah sepeda oleh Joko Widodo.
Dalam acara itu, juga digelar membatik bersama yang dilakukan oleh 500 orang yang terdiri dari perajin batik, para pelajar maupun pelajar asal Belgia yang turut serta dalam program pertukaran pelajar dunia, atau Rotary Youth Exchange.
"Ini pengalaman baru bagi saya. Saya mau membatik selendang, dan ini masih tahap belajar. Batik bagi saya adalah karya seni seperti lukisan beragam corak yang aku kira sulit, karena ada banyak tahapan untuk mendapatkan hasil akhir yang luar biasa cantiknya," kata Julie, pelajar asal Belgia. (lhr)
Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha