Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jateng Agus Suryanto mengatakan, komoditas yang mengalami surplus yakni beras dan daging. Jumlah produksi dua komoditas ini jauh lebih tinggi dari kebutuhan warga Jateng.

Ia menyatakan, untuk komoditas beras produksinya per tahun mencapai 6,9 juta ton. Sementara konsumsi masyarakat Jateng hanya 3,2 juta ton.

”Sehingga masih ada kelebihan produksi sebanyak 3,6 juta ton. Begitu juga dengan komoditas daging yang mengalami surplus,” katanya Rabu (4/12/2019).

Ia menyebut, tiap tahun Jateng mengalami sapi potong sebanyak 1,6 juta ekor, kambing 4 juta dan domba 2 juta ekor.

”Dengan jumlah tersebut, Jawa Tengah menjadi salah satu daerah penyangga kebutuhan daging di Jabodetabek, dengan jumlah suplai hingga 70 ribu ekor per tahun,” ujarnya.

Pada libur Natal dan Tahun Baru mendatang, tingkat konsumsi masyarakat Jawa Tengah diprediksi meningkat 5 persen. Meski demikian menurutnya, kenaikan itu masih terkover dengan ketersediaan produksi yang ada.

Dengan tingginya jumlah produksi, Agus menambahkan, Jawa Tengah siap untuk menyuplai daerah lain yang kekurangan bahan pangan.Hanya saja untuk komoditas kedelai, Jateng mengalami defisit sampai 200 ribu ton.Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Pemprov Jateng telah memperlebar kran distribusi bahan pangan ke seluruh daerah."Kami memiliki 200 lembaga usaha pangan masyarakat ditambah 850 toko tani. Ini untuk mengatasi distribusi tersalur dan menstabilkan harga. Sebagai contoh, jika harga beras di toko mencapai Rp 9.500, di toko tani harga beras hanya Rp 8.800," katanya.Selain itu, operasi pasar juga akan digenjot untuk menekan ulah para spekulan dan oknum-oknum yang memainkan harga. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler