Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, dengan kebijakan ini maka siswa berkebutuhan khusus bisa menempuh pendidikan di sekolah umum.
Karena nantinya di setiap sekolah di bawah wewenang Pemprov Jateng itu juga disediakan guru pendamping siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, kualitas sekolah luar biasa (SLB) juga akan ditingkatkan.
"Saya sedikit memaksa, sambil paralel kita menyiapkan dukungan agar sekolah bisa inklusi. Saat ini sudah mulai disiapkan, Kepala Dinas Pendidikan sudah saya perintahkan mengkaji,” katanya, Sabtu (29/2/2020).
Ia menyatakan, tahun depan diharapkan kebutuhan guru pendamping anak berkebutuhan khusus serta sarana dan prasarana pendukung sekolah inklusi bisa terpenuhi.
Keinginan Ganjar ini juga disampaikan saat melantik 170 kepala SMA/SMK/SLB negeri di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jumat (28/2/2020).
Seluruh kepala sekolah ditanyai tentang kesiapan menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah inklusi. Dari 170 kepala sekolah, 33 di antaranya menyatakan siap, sementara sisanya belum siap.
Salah satu yang menyatakan siap yakni Kepala SMK Jateng Semarang Sriyono. Bahkan ia menyebut, sekolahnya sejak dua tahun terakhir telah mendidik dua siswa tunarungu.
Namun ia mengakui, selama ini belum mempunyai guru pendamping yang mampu menerjemahkan dialog guru dengan siswa berkebutuhan khusus.
Namun ia mengakui, selama ini belum mempunyai guru pendamping yang mampu menerjemahkan dialog guru dengan siswa berkebutuhan khusus.“Penerjemahnya ya teman sebaya yang membantu menerjemahkan sekaligus menjadi guru kedua untuk siswa kami yang tunarungu. Kami butuh guru pendamping,” kata Sriyono.Sementara, Kepala Sekolah SMAN 1 Watumalang Wonosobo Sri Muryanti mengakui sekolahnya belum siap menjadi inklusi.Selain karena akses menuju sekolah yang dirasa kurang memadai untuk siswa berkebutuhan khusus, terutama yang tunadaksa, sekolah ini juga belum memiliki guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus. "Kami kesulitan mengangkat GTT karena terkendala aturan dari pemerintah," kata Sri.Terkait GTT, Ganjar berjanji akan berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pendidikan agar diperbolehkan mengangkat GTT pendamping siswa berkebutuhan khusus.Sebab menurutnya, pengangkatan guru pendamping anak-anak berkebutuhan khusus adalah cara paling efektif untuk menuju inklusi. (lhr) Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha
MURIANEWS, Semarang – Seluruh SMA dan SMK negeri di Jawa Tengah kini tengah disiapkan menjadi sekolah inklusi yang mendukung pembelajaraan anak berkebutuhan khusus. Targetnya, tahun depan program ini sudah berjalan maksimal dengan dukungan sarana dan prasarana yang mumpuni.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, dengan kebijakan ini maka siswa berkebutuhan khusus bisa menempuh pendidikan di sekolah umum.
Karena nantinya di setiap sekolah di bawah wewenang Pemprov Jateng itu juga disediakan guru pendamping siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, kualitas sekolah luar biasa (SLB) juga akan ditingkatkan.
"Saya sedikit memaksa, sambil paralel kita menyiapkan dukungan agar sekolah bisa inklusi. Saat ini sudah mulai disiapkan, Kepala Dinas Pendidikan sudah saya perintahkan mengkaji,” katanya, Sabtu (29/2/2020).
Ia menyatakan, tahun depan diharapkan kebutuhan guru pendamping anak berkebutuhan khusus serta sarana dan prasarana pendukung sekolah inklusi bisa terpenuhi.
Keinginan Ganjar ini juga disampaikan saat melantik 170 kepala SMA/SMK/SLB negeri di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jumat (28/2/2020).
Seluruh kepala sekolah ditanyai tentang kesiapan menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah inklusi. Dari 170 kepala sekolah, 33 di antaranya menyatakan siap, sementara sisanya belum siap.
Salah satu yang menyatakan siap yakni Kepala SMK Jateng Semarang Sriyono. Bahkan ia menyebut, sekolahnya sejak dua tahun terakhir telah mendidik dua siswa tunarungu.
Namun ia mengakui, selama ini belum mempunyai guru pendamping yang mampu menerjemahkan dialog guru dengan siswa berkebutuhan khusus.
“Penerjemahnya ya teman sebaya yang membantu menerjemahkan sekaligus menjadi guru kedua untuk siswa kami yang tunarungu. Kami butuh guru pendamping,” kata Sriyono.
Sementara, Kepala Sekolah SMAN 1 Watumalang Wonosobo Sri Muryanti mengakui sekolahnya belum siap menjadi inklusi.
Selain karena akses menuju sekolah yang dirasa kurang memadai untuk siswa berkebutuhan khusus, terutama yang tunadaksa, sekolah ini juga belum memiliki guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus. "Kami kesulitan mengangkat GTT karena terkendala aturan dari pemerintah," kata Sri.
Terkait GTT, Ganjar berjanji akan berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pendidikan agar diperbolehkan mengangkat GTT pendamping siswa berkebutuhan khusus.
Sebab menurutnya, pengangkatan guru pendamping anak-anak berkebutuhan khusus adalah cara paling efektif untuk menuju inklusi. (lhr)
Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha