Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Seribu paket bantuan itu berasal dari Pemprov jateng, Badan Amil Zakat (Baznas) Jateng dan Unit Pengelola Zakat Masjid Baiturrahman Semarang.

Ganjar Pranowo berpesan agar para penerima tetap melakukan bersabar di tengah wabah. Selain itu, mereka juga diimbau tetap melakukan protokol kesehatan saat berkegiatan sehari-hari.

"Bantuan itu kita sampaikan sekarang, kalau biasanya menjelang Idul Fitri sekarang dimajukan, untuk membantu rekan-rekan yang kurang beruntung. Ayo kita makaryo (bekerja) bersama-sama melawan Covid-19katanya," katanya.

Ia menyebut, Kota Semarang merupakan salah satu zona merah persebaran wabah tersebut. Maka, ia mengajak warganya untuk tetap memakai masker dan rajin mencuci tangan.

"Rumusnya mboten angel (tidak sulit), sing isa nglawan awake dewe (yang bisa melawan kita sendiri), syaratnya adalah sering mencuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak dan pola hidup sehat dengan olahraga juga," urainya.

Sementara itu, Ketua Baznas Jawa Tengah  Ahmad Darodji mengatakan, paket yang dibagikan berupa beras, mi instan dan minyak goreng. Penerimanya, adalah mereka yang berasal dari golongan tidak mampu seperti pedagang kaki lima, yatim piatu, pemijat tuna netra dan sebagainya.

"Total dibagikan sekitar 1000 paket. Selain bantuan dari Pak Ganjar, ada pula bantuan dari berbagai pihak," ujarnya.Seorang penerima bantuan Nuqman (44) seorang pemijat tunanetra asal warga Kelurahan Tandang, Kota Semarang mengaku, selama terjadi wabah, pekerjaanya sangat terganggu. "Biasanya empat pelanggan kini hanya satu paling banyak dua orang," akunya.Nuqman menambahkan, dalam situasi pandemi Covid-19 ia sebenarnya takut bila menangani pasien. Terlebih lagi, penyakit tersebut kadang tak menimbulkan gejala."Tapi saya hati-hati, biasanya pelanggan yang tetap saja. Kalau yang datang dari Jakarta tidak saya layani," pungkasnya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler