Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Robot itu diberi nama RAMA (Robot Asisten Medis Autonomus). Robot ini diciptakan oleh tiga mahasiswa Polines yakni Abbas Kiarostami Permana, Ainur Rofik, dan Wahyu Hidayat.

Robot tersebut untuk pertama kali diperkenalkan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di rumah dinasnya, Minggu (19/7/2020) kemarin.

Saat pertama melihat robot, Ganjar tidak menduga jika itu robot. Karena bentuknya seperti rak makanan. Bentuk robot itu tak seperti yang dibayangkan, yakni punya kepala, kaki dan tangan.

"Ini robotnya to, saya kira robot seperti yang biasanya itu. Ada kaki dan kepalanya," kata Ganjar pertama melihat robot itu.

Ganjar pun meminta tiga mahasiswa pencipta robot tersebut untuk mendemonstrasikan. Setelah dihidupkan dan dikontrol melalui remot, robot RAMA itu bisa berjalan sendiri ke sejumlah tempat dengan sukses.

Selain bisa mengantar makanan, obat-obatan dan kebutuhan pasien, robot itu juga dilengkapi dengan monitor yang bisa digunakan untuk komunikasi.

Jadi, pasien dapat video call dengan perawat atau dokter melalui layar tab yang menempel di robot itu. "Kalau melihat bentuk dan fungsinya, ini sebenarnya nama yang paling pas adalah robot ater-ater (tukang hantar)," kata Ganjar.

Meski demikian, Ganjar mengapresiasi inovasi robot yang diciptakan Polines itu. Dengan robot tersebut, maka pasien covid-19 dapat dilayani dengan baik, tanpa ada sentuhan langsung dengan tenaga medis lainnya.

"Ini bagus, kelebihannya menggantikan perawat sehingga tidak bersentuhan langsung, sehingga melindungi tenaga medis kita. Ini juga bisa mengurangi penggunaan APD," jelasnya.
"Ini bagus, kelebihannya menggantikan perawat sehingga tidak bersentuhan langsung, sehingga melindungi tenaga medis kita. Ini juga bisa mengurangi penggunaan APD," jelasnya.Secara keseluruhan, robot pengganti tenaga medis itu sudah bisa diaplikasikan. Namun menurut Ganjar, perlu terus dikembangkan agar lebih optimal."Seperti kakinya harus diperbaiki agar bisa menaiki tangga atau jalan yang terjal, juga bisa ditambah sensor atau alat untuk membuka pintu kamar pasien. Kalau itu bisa, tentu sangat bermanfaat untuk penanganan pasien, tidak hanya Covid-19, tapi bisa untuk penyakit menular lainnya," terangnya.Sementara Abbas Kiarostami, salah satu pembuat robot itu mengaku jika ide pembuatan robot itu karena keprihatinan banyak tenaga medis yang gugur saat merawat pasien Covid-19. Selain itu, penggunaan APD yang sangat tinggi membuat banyak rumah sakit kekurangan APD."Jadi kami berinovasi membuat robot ini, agar kontak pasien dengan tenaga medis bisa dikurangi. Dengan robot ini, semua kebutuhan pasien bisa diantar dengan jarak jauh tanpa harus bersinggungan langsung. Selain praktis dan aman, juga bisa mengurangi penggunaan APD," jelasnya.Proses pembuatan robot tersebut lanjut Abbas memakan waktu sekitar sebulan. Biaya riset yang dikeluarkan sekitar Rp 25 juta."Harapannya robot ini bisa segera digunakan untuk membantu tenaga medis yang bekerja melayani covid-19. Tentu, masukan dari beberapa tokoh termasuk Pak Ganjar ini akan kami jadikan evaluasi untuk mengembangkan robot ini agar semakin optimal," pungkasnya. (lhr) Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler