Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ia mengatakan, salah satu hal yang berubah yakni kesadaran baru bagi manusia untuk hidup dengan kualitas kesehatan yang lebih baik untuk meningkatkan imunitas.

Kemudian, melakukan segala aktivitas semaksimal mungkin dengan memanfaatkan teknologi, memaksa manusia untuk hidup lebih efisien dan berhemat, dan menguji rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong.

“Menguji rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong. Ini yang perlu, bahwa negara kita adalah negara gotong royong. Kalau dulu ada (jargon) mangan ra mangan sing penting kumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul). Artinya apa, kita bisa merasakan kekurangan, kepahitan sesama kita,” katanya.

Untuk merespon kondisi ini, menurutnya Pemprov Jateng membentuk program Jogo Tonggo yang anggotanya dari berbagai elemen masyarakat.

https://www.instagram.com/p/CF87yh9pSuG/

Mulai dasa wisma, karangtaruna, linmas, bidan desa, posyandu, pendamping PKH, pendamping desa, pendamping pertanian, hingga warga. Mereka saling bergotong royong dan berkoordinasi dengan pemerintah, untuk menangani pandemi Covid-19.

Senada disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Jika ada yang bertanya kapan pandemic ini berakhir, jawabannya ada pada masyarakat sendiri.

Apakah masyarakat mau bergotong royong untuk mengatasinya atau tidak. Contoh kecilnya adalah patuh memakai masker.Mengenakan masker bukan karena takut tertular, tetapi juga ada perasaan takut menularkan kepada yang lain. Gambaran sederhana itu menunjukkan bagaimana arti persaudaraan.“Kalau orang bertanya ini sampai kapan? Jawabannya ada pada kita. Kita mau bersama-sama atau tidak. Kalau tidak, di sini membangun, di sini merusak, di sana merobohkan, tidak akan jadi tatanan itu. Kalau disini mengobati, di sana memaparkan virus, kita harus bersama-sama,” jelasnya.Pandemi ini menurut Gus Mus memberikan pelajaran yang dasyat kepada manusia. Membuat manusia berpikir dan menyadari, bahwa musibah yang menimpa dirasakan semua sakitnya oleh semua pihak.“Bencana seperti ini, tidak lagi ada yang mengatakan, Amerika jauh, Arab jauh, semua terkena. Kita sebagai anak manusia seperti mendapat tamparan dari Allah SWT untuk kita ingat bahwa kita bersaudara,” pungkasnya.Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler