Ganjar Minta Warga Jauhi Isu Kontroversial yang Bikin Ribut
Ali Muntoha
Jumat, 30 April 2021 13:54:42
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Semarang - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta warga Jateng agar menjauhi isu-isu kontroversial yang menimbulkan keributan. Ia menegaskan saat ini masih banyak pekerjaan rumah yang lebih penting dan mesti diselesaikan.
Mulai dari mencari strategi baru agar dapat bertahan dan bersaing dalam perubahan lingkungan eksternal dunia, kebutuhan pokok pangan karena bonus demografi makin banyak, kebutuhan lapangan pekerjaan, hingga memajukan energi dan teknologi informasi yang bisa menyelesaikan banyak persoalan.
Hal itu disampaikan Ganjar usai memimpin Apel Kebangsaan Sinergi untuk Negeri di Mapolda Jawa Tengah, Jumat (30/4). Apel kebangsaan ini dalam rangka menindaklanjuti pencapaian 100 hari program kerja Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Turut hadir dalam apel tersebut, jajaran Forkopimda Jateng, tokoh agama dari FKUB, perwakilan pemuda dan masyarakat serta anggota TNI Polri.
“Jangan sampai kita setback pada isu-isu yang tidak penting, yang kemudian menimbulkan pergesekan dan kita cakar-cakaran terus di dalam,” katanya.
Ganjar mengatakan pemimpin-pemimpin pendahulu di Jawa Tengah telah menancapkan bahwa Jateng merupakan bentengnya Pancasila.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Gubernur Ganjar Pranowo memimpin apel kebangsaan di Mapolda Jawa Tengah. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]
MURIANEWS, Semarang - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta warga Jateng agar menjauhi isu-isu kontroversial yang menimbulkan keributan. Ia menegaskan saat ini masih banyak pekerjaan rumah yang lebih penting dan mesti diselesaikan.
Mulai dari mencari strategi baru agar dapat bertahan dan bersaing dalam perubahan lingkungan eksternal dunia, kebutuhan pokok pangan karena bonus demografi makin banyak, kebutuhan lapangan pekerjaan, hingga memajukan energi dan teknologi informasi yang bisa menyelesaikan banyak persoalan.
Hal itu disampaikan Ganjar usai memimpin Apel Kebangsaan Sinergi untuk Negeri di Mapolda Jawa Tengah, Jumat (30/4). Apel kebangsaan ini dalam rangka menindaklanjuti pencapaian 100 hari program kerja Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Turut hadir dalam apel tersebut, jajaran Forkopimda Jateng, tokoh agama dari FKUB, perwakilan pemuda dan masyarakat serta anggota TNI Polri.
“Jangan sampai kita setback pada isu-isu yang tidak penting, yang kemudian menimbulkan pergesekan dan kita cakar-cakaran terus di dalam,” katanya.
Ganjar mengatakan pemimpin-pemimpin pendahulu di Jawa Tengah telah menancapkan bahwa Jateng merupakan bentengnya Pancasila.
Banyak masyarakat dari ragam agama, dan etnis berkumpul menjadi satu, bahkan banyak tradisi yang saling menghormati perbedaan beragama. Sehingga, kerukunan dan keguyuban harus terus digaungkan pada masyarakat.
“Agar kita jangan mau ditarik-tarik pada urusan yang tidak penting, mari kita menatap masa depan kita bersama,” kata Ganjar.
Ganjar juga menitip pesan pada para pemuda agar memenuhi ruang-ruang medsos dengan narasi baik yang memberikan optimisme. Sehingga bukan cerita hoaks dan ujaran kebencian yang kemudian menimbulkan pertikaian dan perpecahan.
“Kenapa itu penting?. Karena sebagian besar di antara kita memang hidup di dunia maya, di dunia digital yang setiap hari bukan tidak mungkin dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak penting untuk kita lakukan,” tandasnya.
Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha